Selasa, 17 Februari 2026

Motivasi Kerja: Antara Suasana Kantor, Gaya Kepemimpinan, dan Drama Sehari-hari

Februari 17, 2026 1 Comments

Mungkin kamu pernah merasakan hal yang sama karena menurut saya sepertinya hampir semua orang pernah mengalaminya—ada fase di mana semangat bekerja naik-turun. Suatu waktu rasanya ingin segera tiba di kantor, menyelesaikan to do list, dan terkadang muncul ide-ide baru seperti "bagaimana jika kita melakukan A sehingga pekerjaan jadi lebih baik dan efisien". Namun ada kalanya juga membuka laptop pun butuh perjuangan batin. Kerja tetap jalan, tapi mode-nya hemat energi. 


Mirisnya, kondisi itu seringkali bukan karena pekerjaannya terlalu berat, bukan juga soal uang. Tapi soal rasa. Rasa nyaman di lingkungan kerja dan juga bagaimana gaya kepemimpinan. 


Lingkungan kerja punya pengaruh yang besar, meskipun kadang dianggap sepele. Kantor yang suasananya suportif, rekan kerjanya saling bantu biasanya membuat orang lebih nyaman karena ada rasa kebersamaan. Kalau ada pekerjaan yang sulit, minimal ada teman diskusi. Sebaliknya, kalau suasana penuh tekanan, konflik, drama, atau bahkan ada budaya saling menyalahkan, energi rasanya cepat habis. Baru juga jam 10 pagi, rasanya sudah ingin cepat-cepat pulang. 


Selain itu, faktor yang tidak kalah penting adalah gaya kepemimpinan. Ada pimpinan yang kalau hadir membuat suasana menjadi tegang dan tidak nyaman. Ada juga pimpinan yang kehadirannya justru membuat tim lebih tenang dan fokus. Padahal, pegawai sebenarnya tidak selalu menuntut hal yang besar. Selain tentunya hak-haknya terpenuhi (seperti gaji, tunjangan, dan hak cuti), mereka cukup didengar, diapresiasi, atau sekadar tidak dimarahi di depan umum sudah membuat semangat naik berkali-kali lipat.  Hal ini sejalan dengan teori kebutuhan manusia dari Abraham Maslow yang menjelaskan bahwa manusia mempunyai kebutuhan akan penghargaan dan pengakuan. Ketika kebutuhan itu terpenuhi, motivasi akan meningkat. Begitu juga Frederick Herzberg yang menyebutkan bahwa faktor seperti hubungan kerja dan kepemimpinan termasuk penentu kepuasan kerja seseorang. 


Di dunia PNS sendiri, tantangannya memang khas. Sistem birokrasi kadang kaku dan prosedur yang panjang sehingga ruang inovasi terasa terbatas. Kondisi ini bisa membuat motivasi menurun juka tidak diimbangi dengan lingkungan kerja yang sehat dan kepemimpinan yang inspiratif. Di titik ini, peran pimpinan menjadi sangat penting. Pimpinan yang suportif bisa menjadi penyangga semangat, sementara pimpinan yang kurang komunikatif justru bisa membuat pegawai semakin frustasi. 


Padahal kalau dipikir lebih jauh, pegawai yang termotivasi bukan hanya menguntungkan dirinya sendiri, tapi juga organisasi. Pelayanan publik menjadi lebih baik, inovasi muncul dan target kinerja lebih mudah tercapai. Artinya, investasi besar bukan hanya terletak pada sistem dan anggaran, tapi pada manusia dan suasana kerjanya. 


Pada akhirnya, motivasi kerja bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja, bukan pula soal karakter individu semata. Ia tumbuh dari lingkungan kerja yang sehat dan kepemimpinan yang manusiawi. Pimpinan yang baik bisa menjadi sumber energi bagi timnya, sementara lingkungan kerja yang positif bisa menjadi tempat tumbuhnya semangat.