Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Januari 2020

[Kilas Buku] Madrasah Cahaya - Sonia Faiqah

Januari 18, 2020 0 Comments
"Allah mengirimkan berbagai persoalan, pengabaian, kecewa, patah hati, sebagai bentuk penjagaan dari-Nya. Agar kita sadar, tak ada satu pun sandaran dalam kehidupan ini, kecuali Allah semata"

Kalimat yang begitu sejuk, ditulis langsung oleh penulis buku Madrasah Cahaya, Sonia Faiqah, kiranya begitu ia ingin dikenal sebagai penulis. Buku ini saya dapatkan selepas mengikuti give away di instagram. Hadiah give away pertama. Ini kali pertama saya menang give away, hehe.

Buku ini sudah diterima dan dibaca jauh sebelum Kilas Buku ini ditulis. Untuk menulis ini, saya kembali membacanya meski tidak secara utuh. Madrasah Cahaya berisi kumpulan catatan, sarat akan pelajaran, pengingat bagi diri, juga sarana refleksi.  Beberapa kisah terasa lekat dengan keseharian, beberapa yang lain di ambil dari kisah Rasul dan Sahabat.

Madrasah Cahaya terdiri dari 27 catatan, ditambah beberapa sajak di awal dan akhir buku, sebagai pembuka dan penutup. Setiap catatan ditulis dengan apik, bahasa yang lembut, menuntun menemukan kembali jalan pulang. Seperti kata penulis, "Madrasah Cahaya adalah kumpulan catatan yang berhasil dirangkum selama proses hijrah. Sebuah persembahan yang semoga mampu menjelma Ismail lewat cintanya, mampu menjelma Anas lewat pengabdiannya, mampu menjelma Benyamin lewat penjagaannya."


Meski demikian, jika dilihat dari segi desain dan layout, baik cover maupun isi, nampak tidak begitu menarik. Buku setebal 140 halaman ini tidak dijual bebas di toko buku. Anda tidak akan menemukannya di Gramedia, Togamas, Gunung Agung, atau lapak-lapak online. Pun setahu saya belum dijual di marketplace manapun. Anda bisa menghubungi langsung melalui sosial media penulis, baik facebook ataupun instagram Sonia Faiqah. Buku dengan ukuran 13x19 cm ini diterbitkan secara mandiri oleh NF Publishing House dengan cetakan pertama pada Maret 2018.

Bonus: Sajak Penutup dari Madrasah Cahaya

Pada akhirnya, hidup adalah tentang mengambil keputusan
Ada yang memilih berjuang, ada yang memilih pergi
Ada yang menyambut seruan, ada yang berbelok lari
Ada yang tetap bertahan, ada yang memalingkan diri

Pada akhirnya, hidup adalah tentang memilih masalah
Ada yang tersibukkan dengan hal-hal tak penting, ada yang sibuk dengan hal-hal besar
Ada yang mengurus kepentingan pribadi, ada yang memikirkan sesama
Ada yang hanya mengambil keuntungan, ada yang tertarik dengan pengorbanan

Pada akhirnya, hidup adalah tentang bagaimana Allah ridha
Melalui mata yang selalu terjaga
Melalui tenaga yang terkuras
Melalui pikiran yang penat
Melalui sujud yang panjang dalam salat
Melalui untaian doa kebaikan atas umat

Pada akhirnya, hidup adalah tentang keyakinan utuh
Bahwa Allah selalu memberi jalan keluar
Bahwa Allah takkan pernah menyia-nyiakan
Bahwa Allah akan memudahkan segala urusan
Bahwa Allah akan menyingkirkan kesulitan

....

*) foto diambil dari instagram

Rabu, 07 Maret 2018

SYAMIL: SHARING WITH MUZAMMIL

Maret 07, 2018 0 Comments

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sharing time!

Siapa yang belum tau Muzammil? Kalo belum tau, sok atuh boleh di googling dulu, hehe. He’s an architect and Qur’an reciter.

Pardon me, seharusnya ini udah diposting dari lama tapi karena satu-dua hal jadi baru bisa sharing sekarang. Well, di bulan Februari lalu saya dan beberapa temen ikutan Syamil (Sharing with Muzammil) di Al-Azhar Convention Hall, bagian dari Sekolah Al-Azhar Cairo. Itu adalah kali pertama saya ‘main’ ke sana. Hall-nya lumayan besar, lebih besar dari yang kelihatan luarnya.  Bagian luar gedungnya dicat warna-warni. So cheerful! Pas masuk ke dalam hall, saya suka banget sama desain latar belakang stage bagian depannya (saya gatau harus nyebutnya apa, semoga kalian ngerti) yang dibikin seolah kayak ada banyak bintang bertaburan disitu.

Acara ini dimulai siang hari, jadi sebelum acara dimulai kita solat dzuhur berjamaah di hall. Tema sharing waktu itu adalah tentang Al-Qur’an. Bagi temen-temen yang belum sempet hadir acara, kali ini saya akan share sedikit dari isi acara tersebut. Semoga bermanfaat.

Here we go.

Semua yang berhubungan dengan Al-Qur’an dimuliakan oleh Allah SWT. Sebagaimana yang kita tahu, Nabi Muhammad SAW yang kepadanya Allah SWT turunkan Al-Qur’an merupakan manusia pilihan, manusia yang paling sempurna sepanjang masa, yang menjadi panutan bagi kita semua. Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan di malam hari, yang mana ada malam Lailatul Qadr yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan (baca QS. Al-Qadr). Kemudian Allah juga jadikan waktu malam adalah waktu yang sangat baik untuk memanjatkan doa, terlebih di waktu sepertiga malam terakhir. Allah juga jadikan Mekah dan Madinah menjadi tempat yang sangat istimewa. Masyaa Allaah.

Hikmah mengapa Al-Qur’an diturunkan di Mekah adalah karena pada zaman dahulu sedikit sekali orang yang bisa baca tulis disana, termasuk Rasulullah juga tidak bisa baca sebelum turunnya Al-Qur’an. Hal tersebut membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah murni firman Allah SWT, bukan karangan Rasulullah. Meskipun demikian, Rasulullah bukanlah orang bodoh. Pada zaman itu, tingkat kepintaran orang-orang dinilai dari hafalannya, yakni seberapa pandai ia menghapal. Itulah mengapa firman Allah SWT yang pertama diturunkan berbunyi “iqro” yang artinya bacalah. Selain itu, bahasa Arab adalah bahasa yang memiliki diksi yang paling lengkap dan detail sehingga bisa menjelaskan maksud isi Al-Qur’an secara jelas, detail dan lengkap.

 Al-Qur’an dibukukan atau disatukan pada zaman Khalifah Utsman bin Affan.

Islam akan mencapai masa kebangkitan atau kejayaan dengan Al-Qur’an, Insyaa Allah. Sebagaimana pada zaman dahulu, dimana para ilmuwan dan orang-orang besar adalah penghafal Al-Qur’an.  Oleh karena itu, tugas kita adalah untuk senantiasa mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya. Terdapat tiga tingkatan mempelajari Al-Qur’an, yakni:
  1. Membacanya (qiro’ah);
  2. Memahaminya untuk kemudian mengamalkannya, yang dapat dilakukan dengan membaca terjemah, tafsir, maupun belajar dengan ulama atau ahli;
  3. Menghafalnya.
    Sungguh istimewa bagi orang-orang yang dapat menghafalkan Al-Qur’an. Menghafal Al-Qur’an adalah cara untuk menjaga Al-Qur’an, dan merupakan salah satu cara untuk menolong agama Allah. Terdapat tiga cara untuk menolong agama Allah, yakni dengan cara berdakwah, berjihad, serta menjaga Al-Qur’an dengan cara menghafalkannya.

Adapun cara agar kita dapat senantiasa istiqomah mempelajari Al-Qur’an adalah:
  1. Melakukannya dengan Ikhlas dan niat yang tulus;
  2. Dilandasi dengan Iman;
  3. Senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT;
  4. Berbakti kepada orang tua. Ridho orangtua adalah ridhonya Allah SWT;
  5. Menjaga makanan dan rizki hanya dengan yang halal.

Tambahan:
Semoga Allah memberikan kita hidayah, juga kepada temen-temen yang masih belum menutup auratnya. Girls, jangan salah ya. Jangan berfikir untuk “Jilbabin hati dulu, ah.” Karena justru hati itu harus dibuka, dan kepala yang ditutup. Kalau Allah sudah menutup hati kita, maka itu artinya hidayah tidak bisa masuk ke dalam hati kita. Jangan sampai Allah menutup penglihatan, pendengaran, serta hati kita sehingga kita tidak lagi bisa mendapat hidayah-Nya. Sudah tau kan kalo menutup aurat itu wajib?

Wassalamu’alaikum.

#ayojadibaik

Kamis, 17 November 2016

SHALAT

November 17, 2016 0 Comments


Sedemikian besarnya kasih sayang Allah kepada manusia, berbeda dengan sultan dan raja. Allah senantiasa membuka pintu dan memberi kesempatan serta mengangkat tirai-tirai-Nya, lalu memberi izin bagi hamba-Nya untuk menghadap, berjumpa dan bercakap mesra bersama-Nya melalui shalat, di mana dan kapan saja.

Arti shalat secara syariat ialah menghadapkan ruh, hati, jiwa, dan raga dan melakukan perhubungan kepada Allah sebagai suatu ibadah/dzikir akbar dalam bentuk beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan Takbirat-ul-ihram dan diakhiri dengan Salam, serta harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh syariat Islam sebagaimana telah diperagakan oleh Rasulullah Saw dalam kehidupan sehari-hari beliau.

Artinya kita harus meng-Akbar-kan Allah dalam setiap keadaan hidup yang kita hadapi, susah, senang, lapang maupun sempit, sampai akhirnya kita memperoleh kedudukan yang selamat atau bahagia, sehingga kita bisa menyelamatkan dan membahagiakan orang di sekitar kita. Maka dengan mendalami hakikat shalat tahulah kita bahwa praktik shalat merupakan miniatur kehidupan manusia.
Dengan demikian dapatlah kita hayati, mengapa dalam panggilan shalat itu ada kalimat yang berbunyi “hayya ‘alash-shalah” (marilah mendirikan shalat) yang kemudian diiringi dengan “hayya ‘alal-falah” (marilah meraih kebahagiaan).

Dengan demikian tak akan ada kemenangan dan kebahagiaan yang hakiki yang dapat diraih tanpa mendirikan shalat, dan setiap kebahagiaan harus digapai dengan perjuangan dan kesabaran serta pengorbanan. “...serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kapada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah:18).

 Related image

Shalat adalah perbuatan jasmaniah dan sekaligus perbuatan ruhaniah manusia, sebagaimana badan manusia memerlukan makanan, maka jiwa manusia juga memerlukan makanan pula. Lima kali sehari semalam seorang Muslim wajib mendiikan shalat.
Islamlah yang pertama-tama mengintegrasikan antara ibadah dengan kehidupan sehari-hari. Islam tidak mengenal sabbat sebagaimana yang dikenal oleh agama-agama lain, yaitu sehari dalam seminggu khusus diadakan peribadatan dengan tidak mengerjakan pekerjaan lain.
Bila kita mengkaji firman Allah dalam Al-Qur’an, maka akan kita temukan kategori shalat dalam penilaian Allah Swt, yaitu:

a. Shalat mabuk
Firman Allah Swt, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendirikan shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (QS. An-Nisa’:43).
Dalam firman-Nya di atas, jelas-jelas Allah melarang orang yang sedang mabuk untuk mendirikan shalat sampai mereka mengerti apa yang mereka ucapkan dalam shalat.

b.      b. Shalat lalai

Firman Allah Swt, “Maka kecelakaanlah (wail) bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai (sahun) dari shalatnya.” (QS Al-Ma’un: 4-5).

Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menjelaskan tantang makna yang terkandung dalam firman Allah di atas, yaitu menunjuk kepada orang-orang yang lemah iman. Sekalipun telah melakukan shalat, namun shalat itu justru membawa kecelakaan bagi dirinya, karena tidak dilaksanakannya dengan penuh kesungguhan. Shalat itu dilaksanakannya tidak bersumber dari kesadaran, bahwa sebagai seorang hamba, sudah sepatutnyalah dia memperhambakan diri kepada Allah dan mendirikan shalat sebagaimana yang diperintahkan Allah dengan perantaraan Nabi-Nya.

c.       c. Shalat malas/munafik

Mereka yang mengerti apa yang diucapkan, namun tidak mematuhi atau melaksanakan apa yang diucapkannya ketika shalat, disebut juga sebagai shalat orang-orang munafik. Mereka mendirikan shalat hanyalah untuk menipu Allah dan orang-orang beriman, sementara di dalam hatinya bersarang benci dan dendam kepada kaum Muslimin. Kalau diseru untuk shalat mereka akan datang dengan malas.

d.      d. Shalat khusyuk

Agar kita dapat melakukan shalat dengan khusyu’, maka Nabi Saw mengajarkan kita dalam menjalankan setiap perbuatan berlaku ihsan. Artinya, ketika shalat, hendaklah kita melihat Allah, namun kalau kita tidak bisa melihat Allah, hendaklah kita yakin bahwa Allah sedang melihat apa yang sedang kita kerjakan.

Ketika menjawab pertanyaan sahabatnya Zi’lin al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Rabb Anda?”, Imam ‘Ali berkata, “Bagaimana saya mengabdi kepada dzat yang tidak pernah saya lihat?” Zi’lin pun bertanya lagi, “Bagaimana Anda melihat-Nya?” Imam Ali menjawab, “Dia tidak bisa dilihat dengan pandangannya yang kasat, tapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan.”

e.       e. Shalat hafidz/terpelihara

Mereka yang sudah mampu shalat dengan khusyu’ secara berkesinambungan disebut sebagai orang yang shalatnya terpelihara atau shalat hafidz. Sebagai dampaknya mereka terpelihara dari perbuatan keji dan munkar. “Dan orang-orang yang memelihara shalatnya; Mereka itu kekal dalam Jannah lagi dimuliakan.” (QS Al-Ma’arij: 34-35).

f.        f. Shalat da’im/berketetapan
Mereka yang sudah dapat mengaplikasikan nilai-nilai shalat di luar waktu shalat, itulah yang disebut sebagai orang yang da’im dalam shalatnya. Ia berusaha semaksimal mungkin mengaktualisasikan shalat dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu segala aktivitas yang dilakukannya selalu disesuaikan dengan aturan Allah dan sunnah Rasul-Nya. Lisan mereka tidaak pernah lalai menyebut Allah, hati mereka tidak pernah luput berhubungan dengan Allah, sekalipun pada saat itu mereka sedang berkarya maupun berniaga. Mereka berupaya semaksimal mungkin untuk menyatukan gerak hati, gerak lisan dan gerak perbuatannya dalam rangka mengikuti Qadrat dan Iradat-Nya semata.

Menurut Imam Al-Ghazali, berdasarkan bacaan dalam shalat, manusia dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan, yaitu:
1)      Seseorang yang lidahnya bergerak, tapi hatinya lupa dan lalai
2)      Seseorang yang lidahnya bergerak, hatinya mengikuti lidahnya, lalu ia memahaminya seolah-olah ia mendengar dari orang lain
3)      Seseorang yang hatinya mendahului makna bacaan, lalu lidahnya melayani hati setelah menerjemahkannya. Jadi lidah mereka sebagai juru terjemah yang mengikuti hati, bukan hati yang mengikuti lidah.

Jumat, 19 Agustus 2016

MANAGEMENT OF SOUL

Agustus 19, 2016 0 Comments


Ego adalah produk dari pikiran. Pikiran dapat tercipta melalui masukan yang diberikan oleh pancaindra, baik penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap dan perasa. Manusia dengan kesadaran rendah masih belum mampu melakukan kontrol terhadap pancaindra yang dimilikinya, sehingga dia pun tidak dapat melakukan kontrol terhadap egonya.
Apabila hati telah dikuasai oleh ego, maka dapat dipastikan bahwa manusia tersebut tidak akan pernah bisa mendengar suara Rabb-nya. Suara/petunjuk Allah Swt hanya dapat didengar atau diketahui oleh manusia melalui suara hati nurani. Karena itu, pada kenyataannya banyak manusia yang hatinya telah diselubungi oleh ego beranggapan bahwa suara ego tersebut adalah suara/petunjuk yang diberikan oleh Allah Swt kepada dirinya.
 
Gambar: google
Kekeliruan manusia yang menganggap suara egonya sebagai petunjuk allah Swt akan timbul akibat sebagai berikut:
a.       Munculnya sifat serakah, mau menang sendiri, sombong, sadis, yang dapat dilihat dari perilaku kehidupannya sehari-hari.
b.      Hatinya tidak akan pernah merasakan ketenangan dan kedamaian, karena ego tidak pernah mengenal batasan “cukup”, hidupnya selalu dipenuhi dengan kecemasan.
c.       Hidupnya akan dipenuhi oleh berbagai macam masalah, mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar (termasuk masalah dengan kesehatan). Bahkan rahmat Allah pun seringkali dirasakannya sebagai sebuah masalah.
d.      Pikiran dan perasaannya selalu dihantui oleh rasa takut yang tidak berkesudahan, takut ditinggal oleh tuhan-tuhan palsu yang telah hidup di dalam hatinya. Akibatnya sudah dapat ditebak, stress, stroke, kanker, dan berbagai macam penyakit lainnya akan segera menjadi miliknya.
Pada level ini manusia beribadah hanya karena iming-iming surga ataupun ketakutan akan neraka. Seluruh pelaksanaan ibadah dilaksanakan/ditaati tanpa makna dan pengertian yang mendalam. Mereka belum menyadari bahwa beribadah sebenarnya bukanlah bertujuan untuk mengejar pahala, tetapi sebagai training atau latihan mencapai sesuatu yang perlu diraih, yaitu derajat takwa ataupun kesejatian diri yang bersih sehingga menghasilkan manusia yang mampu menjalankan hidup di dalam pimpinan ruh yang hidup.
Untuk dapat meningkatkan kualitas kesadaran rendah menjadi kualitas kesadaran yang lebih tinggi, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah meurunkan dominasi ego yang ada di dalam diri manusia yang bersangkutan.
Apabila suara ego sudah tidak lagi nyaring terdengar, maka suara hati yang merupakan suara/petunjuk dari allah Swt akan dapat didengar dengan jelas. Selanjutnya, yang bertindak sebagai pengendali tubuh adalah jiwa yang berserah kepada allah (mukhlisin), jiwa yang tercerahkan dan jiwa yang tidak terjangkau oleh pikiran negatif maupun perasaan gelisah.
Karena jiwa berada di atas wilayah itu semua, Allah menggambarkan, setan pun tidak mampu menjangkau keadaan jiwa yang berserah diri pada-Nya, “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya kekuasaan setan hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah” (QS An-Nahl: 99-100).


Referensi: Khadimullah, K.H.A.M. Zamry. 2011. Khusyukkan Shalatmu: Mi’raj Spiritual Seorang Muslim. Bandung:Marja.

Rabu, 15 Juni 2016

TAULADAN KISAH WANITA SHALIHAH

Juni 15, 2016 0 Comments
Tatkala Ibrahim as hendak meninggalkan budak wanitanya, Hajar, yang dihadiahkan oleh istrinya, Sarah, dan ketika Ibrahim hendak meninggalkan Hajar bersama anaknya, Ismail yang masih menyusu di samping Baitullah di Makkah Al-Mukarramah, lalu hendak pulang kembali ke Palestina, Hajar berkata kepada Ibrahim, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini, wahai Ibrahim?” Maksud Hajar, apakah Allah yang memerintahkan Ibrahim untuk meninggalkannya dan anaknya di sini, tanpa air dan teman. Ibrahim menjawab, “Benar!” Kemudian Hajar berkata: “Kalau begitu, silahkan engkau pergi, sebab Dia pasti tidak akan menyia-nyiakan kita.” (HR. Bukhari, 4/172-175)
Hajar membuat sebuah ungkapan yang sangat indah tentang tawakkal kepada Allah.
Apakah Allah menyia-nyiakan mereka? Jawabnya tentu tidak, bahkan Dia memelihara dan memuliakan mereka dengan pemuliaan yang terbaik. Begitulah Allah mencukupkan orang yang bertawakkal kepada-Nya dan percaya terhadap-Nya.

Related image

Diriwayatkan bahwa Hatim Al-Asham pernah berkata kepada anak-anaknya: “Aku ingin berangkat haji.”
Maka mereka pun menangis dan berkata: “Kepada siapa Bapak menyerahkan kami?”
Ketika itu, salah seorang anak perempuan Hatim Al-Asham berkata: “Biarkan Bapak pergi, sebab bapak bukanlah yang memberi rizki.”
Maka Hatim Al-Asham pun berangkat. Malam harinya, mereka melewatinya dalam keadaan kelaparan dan mulai mencela putri Hatim Al-Asham tersebut, maka putrinya itu berucap: “Ya Allah, jangan Engkau permalukan aku di tengah-tengah mereka.”
Tak lama kemudian, amir negeri lewat di depan rumah mereka. Ketika itu dia berkata kepada salah seorang sahabatnya: “Tolong carikan air untukku.”
Sahabat amir negeri langsung menuju rumah Hatim Al-Asham dan meminta air minum. Maka penghuni rumah Hatim menyerahkan kepadanya sebuah cangkir baru berbentuk kubus, berisi air dingin. Amir negeri itupun meminumnya. Selanjutnya, amir negeri berkata: “Rumah siapa ini?”
Orang-orang menjawab: “Rumah Hatim Al-Asham.”
Lalu amir negeri itu melemparkan sebuah bungkusan berisi emas ke dalam cangkir dan berkata: “Siapa yang mencintaiku, maka hendaklah dia melakukan seperti apa yang kulakukan.”
Maka para prajurit yang mengiringinya melemparkan uang yang mereka miliki ke dalam cangkir itu. Ketika itu putri Hatim Al-Asham menangis. Ibunya pun bertanya heran, “Apa yang membuatmu menangis, padahal Allah telah meluaskan rahmat-Nya kepada kita?”
Putri hatim berkata: “Sebab seorang makhluk memandang kepada kita, maka dia memberikan uang yang lebih dari cukup untuk kita. Bagaimana seandainya Sang Pencipta yang memandang kepada kita?”


Referensi: Buku Wahai Saudariku Inilah Surga, masuklah ke dalamnya dari pintu mana saja yang kamu Inginkan Oleh Mahmud Al-Mishri (Abu Ammar) diterjemahkan oleh Fathurahman Abdul Hamid, Lc.

Senin, 30 Mei 2016

KATAKAN KEPADA WANITA YANG BERIMAN HENDAKLAH MEREKA MENAHAN PANDANGANNYA

Mei 30, 2016 0 Comments

Di antara penyakit yang merebak di kalangan kaum wanita adalah penyakit suka melirik pria. Kaum wanita yang tidak pernah menahan pandangannya mengira bahwa menahan pandangan itu khusus bagi kaum pria, tidak bagi kaum wanita. Dia lupa bahwa setelah memerintahkan kaum pria untuk menahan pandangan, Allah SWT juga berfirman:
”Katakan kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya.”(QS. An-Nuur [24]:31)
Maksudnya, menahan pandangan dari apa yang diharamkan Allah atas mereka, seperti memandang pria yang bukan suami mereka.
Rasulullah pernah bersabda kepada Ummu Salamah dan Maimunah tatkala Ibnu Ummi Maktum masuk: “Berlindunglah kalian darinya.” Maka Ummu Salamah berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah dia buta? Dia tidak akan dapat melihat kami dan tidak akan dapat mengenali kami.” Rasulullah bersabda:
“Tetapi apakah kalian buta? Bukankah kalian dapat melihatnya? (HR. Tirmidzi pada pembahasan tentang adab, 29, Abu Dawud pada pembahasan tentang pakaian, 34, dan Ahmad dalam Al-Musnad,6/269)
Bahkan Rasulullah pernah bersabda:
“Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lain, lalu menceritakan kecantikan wanita tersebut kepada suaminya (hingga) seakan-akan suaminya melihat sendiri wanita lain tersebut.” (HR. Bukhari, Ahmad dan Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud)
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Tidak boleh seorang pria menggambarkan ketampanan pria lain kepada istrinya dan tidak boleh seorang wanita menggambarkan kecantikan wanita lain kepada suaminya.”
Mungkin ada wanita yang bertanya, “Bagaimana saya dapat menahan pandangan?” Jawaban dari pertanyaan ini ada dalam sebuah kalimat pendek, namun mengandung banyak kebaikan yang begitu banyak, yaitu siapa yang menegakkan tauhid kepada Allah di dalam hatinya, maka dia tidak akan memandang kepada seorang pria pun selama-lamanya.
Oleh karena itu, wahai Saudari, apabila engkau ingin mengetahui sebesar apa cintamu kepada Allah dan sejauh mana kejujuranmu dalam mengesakan Allah, maka perhatikan sikapmu. Apabila ada seorang pemuda atau seorang pria, baik itu pria fasiq ataupun shalih, lewat di hadapanmu, maka jika engkau menahann pandangan darinya, itu artinya engkau adalah orang yang cinta kepada Allah. Namun jika engkau memandangnya, maka ketahuilah bahwa cintamu kepada hawa nafsu dan syahwat lebih besar daripada cintamu kepada Allah. Jika demikian, maka obatnya adalah menegakkan tauhid kepada Allah.




Referensi: Buku Wahai Saudariku Inilah Surga, masuklah ke dalamnya dari pintu mana saja yang kamu Inginkan Oleh Mahmud Al-Mishri (Abu Ammar) diterjemahkan oleh Fathurahman Abdul Hamid, Lc.