Rabu, 09 November 2016

[RESENSI] CRYSTAL STAIRS

November 09, 2016 0 Comments


Penulis                  : Amaliah Black

Ilustrator              : Sara Debora

Desainer cover     : Julia Laud & Ivana PD

Penerbit                : Grasindo

Terbit                    : November 2015

Tebal                     : 242 hlm.

ISBN                     : 978-602-375-268-3

Coba lihat tubuh itu.
Perhatikan segenap lekuk-lekuknya...
Kemudian helaian rambutnya yang tergerai.
Juga sepasang matanya yang membuka lebar.
Dekati. Lalu, amati dengan jelas...
Aku seharusnya memanggil polisi untuk mengetahui sudah berapa lama tubuh itu tergeletak di sana. Dalam keadaan berdarah. Tanpa nyawa.
Aku seharusnya menelepon petugas keamanan untuk melaporkan pemandangan mengerikan yang tengah kusaksikan sekarang. Aku seharusnya bertindak lebih tegas.
Namun, aku hanya melangkah mundur. Melarikan diri dari seluruh kenyataan. Dan pada akhirnya aku tersadar... kini dunia berangsur-angsur menjadi sepetak penjara bagi kehidupanku. Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.

Membaca sinopsis novel ini akan memberikan gambaran bagi pembaca bahwa buku ini memiliki tema misteri ataupun thriller. Karya debut Amaliah Black ini sebenarnya merupakan tulisan kategori  fiksi dewasa yang mengangkat kisah asmara ala Korea, namun yang menjadi poin menarik adalah konflik yang ditimbulkan tidak hanya cerita cinta romantis khas novel pop sweet romance, tapi juga mengisahkan sisi lain kehidupan seorang selebriti Korea serta dibumbui dengan tragedi pembunuhan salah satu tokoh dalam cerita,  Kang-Dae-Yun.
Cerita disajikan  dengan alur campur (maju – mundur). Pada awal cerita, penulis menceritakan kisah percintaan antara Kim-Ha-Na, dan juga Kang-Dae-Yun yang ternyata sama-sama mencintai Choi-Min-Jae. Dalam kisah ini penulis juga menyelipkan beberapa adegan lucu yang memberikan kesan seperti comedy romance di antara kisah asmara para tokoh utama. Kemudian pembaca diajak untuk memahami perjalanan kelam hingga tragedi pembunuhan salah satu tokoh  yang  menjadi representasi dari  judul novel ini – Crystal Stairs.
Penulis menggunakan sudut pandang oang ketiga dengan tentunya mengambil  latar di Negeri Ginseng,  Korea. Secara keseluruhan, bahasa dan gaya cerita yang dipilih oleh penulis cukup asyik sehingga  membuat pembaca penasaran  untuk segera mengetahui motif  pembunuhan yang sebenarnya. Nove  yang  menjadi salah satu  pemenang pilihan Publisher Searching  for Authors 3 ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu luang, terlebih bagi Anda yang menyukai kisah-kisah Korea. Bahkan novel ini juga dapat menjadi bacaan yang menarik bagi mereka yang  sebelumnya belum pernah menyantap kisah khas drama Korea. [ak]

Jumat, 19 Agustus 2016

MANAGEMENT OF SOUL

Agustus 19, 2016 0 Comments


Ego adalah produk dari pikiran. Pikiran dapat tercipta melalui masukan yang diberikan oleh pancaindra, baik penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap dan perasa. Manusia dengan kesadaran rendah masih belum mampu melakukan kontrol terhadap pancaindra yang dimilikinya, sehingga dia pun tidak dapat melakukan kontrol terhadap egonya.
Apabila hati telah dikuasai oleh ego, maka dapat dipastikan bahwa manusia tersebut tidak akan pernah bisa mendengar suara Rabb-nya. Suara/petunjuk Allah Swt hanya dapat didengar atau diketahui oleh manusia melalui suara hati nurani. Karena itu, pada kenyataannya banyak manusia yang hatinya telah diselubungi oleh ego beranggapan bahwa suara ego tersebut adalah suara/petunjuk yang diberikan oleh Allah Swt kepada dirinya.
 
Gambar: google
Kekeliruan manusia yang menganggap suara egonya sebagai petunjuk allah Swt akan timbul akibat sebagai berikut:
a.       Munculnya sifat serakah, mau menang sendiri, sombong, sadis, yang dapat dilihat dari perilaku kehidupannya sehari-hari.
b.      Hatinya tidak akan pernah merasakan ketenangan dan kedamaian, karena ego tidak pernah mengenal batasan “cukup”, hidupnya selalu dipenuhi dengan kecemasan.
c.       Hidupnya akan dipenuhi oleh berbagai macam masalah, mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar (termasuk masalah dengan kesehatan). Bahkan rahmat Allah pun seringkali dirasakannya sebagai sebuah masalah.
d.      Pikiran dan perasaannya selalu dihantui oleh rasa takut yang tidak berkesudahan, takut ditinggal oleh tuhan-tuhan palsu yang telah hidup di dalam hatinya. Akibatnya sudah dapat ditebak, stress, stroke, kanker, dan berbagai macam penyakit lainnya akan segera menjadi miliknya.
Pada level ini manusia beribadah hanya karena iming-iming surga ataupun ketakutan akan neraka. Seluruh pelaksanaan ibadah dilaksanakan/ditaati tanpa makna dan pengertian yang mendalam. Mereka belum menyadari bahwa beribadah sebenarnya bukanlah bertujuan untuk mengejar pahala, tetapi sebagai training atau latihan mencapai sesuatu yang perlu diraih, yaitu derajat takwa ataupun kesejatian diri yang bersih sehingga menghasilkan manusia yang mampu menjalankan hidup di dalam pimpinan ruh yang hidup.
Untuk dapat meningkatkan kualitas kesadaran rendah menjadi kualitas kesadaran yang lebih tinggi, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah meurunkan dominasi ego yang ada di dalam diri manusia yang bersangkutan.
Apabila suara ego sudah tidak lagi nyaring terdengar, maka suara hati yang merupakan suara/petunjuk dari allah Swt akan dapat didengar dengan jelas. Selanjutnya, yang bertindak sebagai pengendali tubuh adalah jiwa yang berserah kepada allah (mukhlisin), jiwa yang tercerahkan dan jiwa yang tidak terjangkau oleh pikiran negatif maupun perasaan gelisah.
Karena jiwa berada di atas wilayah itu semua, Allah menggambarkan, setan pun tidak mampu menjangkau keadaan jiwa yang berserah diri pada-Nya, “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya kekuasaan setan hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah” (QS An-Nahl: 99-100).


Referensi: Khadimullah, K.H.A.M. Zamry. 2011. Khusyukkan Shalatmu: Mi’raj Spiritual Seorang Muslim. Bandung:Marja.