Sabtu, 18 Januari 2020

[Kilas Buku] Madrasah Cahaya - Sonia Faiqah

Januari 18, 2020 0 Comments
"Allah mengirimkan berbagai persoalan, pengabaian, kecewa, patah hati, sebagai bentuk penjagaan dari-Nya. Agar kita sadar, tak ada satu pun sandaran dalam kehidupan ini, kecuali Allah semata"

Kalimat yang begitu sejuk, ditulis langsung oleh penulis buku Madrasah Cahaya, Sonia Faiqah, kiranya begitu ia ingin dikenal sebagai penulis. Buku ini saya dapatkan selepas mengikuti give away di instagram. Hadiah give away pertama. Ini kali pertama saya menang give away, hehe.

Buku ini sudah diterima dan dibaca jauh sebelum Kilas Buku ini ditulis. Untuk menulis ini, saya kembali membacanya meski tidak secara utuh. Madrasah Cahaya berisi kumpulan catatan, sarat akan pelajaran, pengingat bagi diri, juga sarana refleksi.  Beberapa kisah terasa lekat dengan keseharian, beberapa yang lain di ambil dari kisah Rasul dan Sahabat.

Madrasah Cahaya terdiri dari 27 catatan, ditambah beberapa sajak di awal dan akhir buku, sebagai pembuka dan penutup. Setiap catatan ditulis dengan apik, bahasa yang lembut, menuntun menemukan kembali jalan pulang. Seperti kata penulis, "Madrasah Cahaya adalah kumpulan catatan yang berhasil dirangkum selama proses hijrah. Sebuah persembahan yang semoga mampu menjelma Ismail lewat cintanya, mampu menjelma Anas lewat pengabdiannya, mampu menjelma Benyamin lewat penjagaannya."


Meski demikian, jika dilihat dari segi desain dan layout, baik cover maupun isi, nampak tidak begitu menarik. Buku setebal 140 halaman ini tidak dijual bebas di toko buku. Anda tidak akan menemukannya di Gramedia, Togamas, Gunung Agung, atau lapak-lapak online. Pun setahu saya belum dijual di marketplace manapun. Anda bisa menghubungi langsung melalui sosial media penulis, baik facebook ataupun instagram Sonia Faiqah. Buku dengan ukuran 13x19 cm ini diterbitkan secara mandiri oleh NF Publishing House dengan cetakan pertama pada Maret 2018.

Bonus: Sajak Penutup dari Madrasah Cahaya

Pada akhirnya, hidup adalah tentang mengambil keputusan
Ada yang memilih berjuang, ada yang memilih pergi
Ada yang menyambut seruan, ada yang berbelok lari
Ada yang tetap bertahan, ada yang memalingkan diri

Pada akhirnya, hidup adalah tentang memilih masalah
Ada yang tersibukkan dengan hal-hal tak penting, ada yang sibuk dengan hal-hal besar
Ada yang mengurus kepentingan pribadi, ada yang memikirkan sesama
Ada yang hanya mengambil keuntungan, ada yang tertarik dengan pengorbanan

Pada akhirnya, hidup adalah tentang bagaimana Allah ridha
Melalui mata yang selalu terjaga
Melalui tenaga yang terkuras
Melalui pikiran yang penat
Melalui sujud yang panjang dalam salat
Melalui untaian doa kebaikan atas umat

Pada akhirnya, hidup adalah tentang keyakinan utuh
Bahwa Allah selalu memberi jalan keluar
Bahwa Allah takkan pernah menyia-nyiakan
Bahwa Allah akan memudahkan segala urusan
Bahwa Allah akan menyingkirkan kesulitan

....

*) foto diambil dari instagram

Sabtu, 21 Desember 2019

Kalo Aku Ikut Pers, Apa Untungnya?

Desember 21, 2019 0 Comments

Mendengar nama pers rasanya keren sekali, ya? Wah pasti mereka-mereka ini yang sering mondar-mandir bawa kamera, apalagi di acara-acara atau kejadian penting, beberapa malah sering muncul di televisi. Padahal, sebenarnya pers itu tidak terbatas hanya itu saja, lo! Kalau yang disebutkan tadi, itu bisa jadi kamu baru kenal sebatas tugas reporter saja. Terus apa bedanya reporter dan pers? Kalau menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), reporter berarti orang yang pekerjaannya melaporkan (berita, peristiwa, dan sebagainya) alias wartawan. Sedangkan pers adalah usaha pengumpulan dan penyiaran berita. Jadi, sudah cukup jelas sampai di sini? Reporter itu salah satu bagian dari pers, ya, teman-teman.


Asiknya, kita bisa belajar memahami pers meski masih duduk di bangku kuliah karena di kampus biasanya ada yang namanya Pers Mahasiswa, ada yang tingkat fakultas ataupun universitas. Pers Mahasiswa ini sendiri biasanya tergolong dalam organisasi kemahasiswaan, yang tentunya independen. Jadi, di pers mahasiswa ini isinya apa saja selain reporter? Banyak! Setidaknya, di pers mahasiswa ini ada yang namanya Pimpinan Umum alias pimum, Bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang), dan yang paling penting dan utama itu Redaksi. Bagian redaksi ini dipimpin oleh seorang Pimpinan Redaksi (Pimred) yang mana di bawahnya ada Redaktur Pelaksana, Reporter dan juga FPelaksana, serta Layouter. Beberapa pers yang membuka iklan untuk media cetaknya, juga mempunyai Bagian Usaha, yang dipimpin oleh seorang Pimpinan Usaha (Pimus).

Selain itu, teman-teman juga pasti sudah tahu bahwa pers sekarang tidak hanya terbatas untuk penyiaran melalui media cetak saja, melainkan juga sudah merambah media online. Sebab di era yang serba canggih ini semua sudah bisa kita akses dengan bermodalkan kuota internet dan gadget di genggaman.

Lalu, bagaimana kalau saya ikut bagian dalam pers ini? Apa untungnya bagi saya?

#1 Stay update

Kalau dipikir, bagaimana mungkin kita tidak update dengan berita atau informasi jika kita sendiri yang memberitakannya? Jadi pers memungkinkan kita untuk mengetahui banyak informasi-informasi terbaru dengan cepat, bahkan melalui sumber-sumber yang kredibel. Hal ini mungkin saja, sebab pers menjadi pintu kita untuk memiliki banyak jejaring. Masa, orang pers ketinggalan info? Hehe.

#2 Paket Komplit: Tulis menulis, desain dan layouting

Mulai belajar di pers, tentu kita perlu menguasai dunia jurnalistik atau kepenulisan berita. Adalah sebuah kemustahilan jika kita yang masih baru dan tidak mengerti apa-apa, lantas langsung ditunjuk untuk menjadi pimpinan umum. Jadi, di sinilah kita perlu membiasakan diri bagaimana cara menulis berita yang baik. Perlu diingat, bahwa berita yang disebarluaskan adalah berita benar, bukan hoax atau gosip. Berita yang ditulis berdasarkan informasi yang benar dan terpercaya, tidak mengada-ada apalagi mengadu domba.
Penulisan berita ini, lekat pada tugas bagian redaksi. Kita dituntu untuk memahami bagaimana teknik penulisan berita yang baik dan benar, yang dapat merangkum 5W+1H, dan tetap menarik untuk dibaca. Teman-teman sekalian juga dapat mengetahui bagaimana pemilihan judul berita yang menarik, teknik piramida terbalik untuk menulis berita, serta hal-hal lainnya. Selain itu, di bagian redaksi ini kita juga dapat belajar bagaimana cara mendesain serta me-layout terutama untuk media cetak seperti majalah, koran, ataupun buletin. Di era sekarang terutama dunia kreatif, pengetahuan dan kemampuan menulis serta desain adalah hal yang penting dan bisa menjadi nilai tambah bagi diri kita. Kamu keren kalau bisa nulis dan desain.

#3 ID Card pers

Masih bertanya apa untungnya punya ID Card pers? Dengan ID ini, beberapa teman pers mahasiswa bahkan bisa masuk ke acara-acara besar yang diselenggarakan oleh kampus tanpa harus menjadi tamu undangan atau membayar dengan sejumlah uang, hehe. Ikut masuk ke gedung DPR untuk meliput saat demo pun bisa.

#4 Bertemu orang penting

Jika masuk ke acara penting saja bisa, kita juga bisa bertemu dan mewawancarai orang-orang penting dan terkenal. Menjadi pers membuka peluang bagi kita untuk memperluas jejaring, mengenal banyak orang dan bahkan juga dikenal oleh banyak orang.

#5 Latihan jadi wartawan professional

Menjadi wartawan profesional adalah menjadi orang yang tangguh, gesit, pandai dan tahan banting, serta mampu memanajemen waktu sebab sudah pasti mobilitasnya sangat tinggi dan juga berani menyampaikan kebenaran. Jadi, mau latihan dulu tidak?

Sabtu, 28 September 2019

Yang Quotable di "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat"

September 28, 2019 0 Comments
The Subtle Art of Not Giving A Fuck merupakan buku pengembangan diri pertama tulisan Mark Manson yang beberapa waktu lalu menjadi salah satu buku yang cukup terkenal dan digandrungi oleh banyak pembaca. Di Indonesia sendiri, buku ini telah dialihbahasakan menjadi "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat".

Hasil gambar untuk foto buku seni bersikap bodo amat
Pict by google

Pernah suatu waktu, ketika saya sedang membaca buku ini, seseorang berkata, "Untuk apa kamu baca buku ini? Awas nanti kamu malah jadi bodo amat. Ga bagus itu". Padahal, bodo amat yang dimaksud oleh Manson adalah bagaimana kita menyikapi suatu masalah yang terjadi serta memberi perhatian hanya pada hal-hal yang memang semestinya perlu kita berikan atensi.

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat terdiri dari 9 bab. Melalui buku ini, Manson mengemas tulisannya dengan kisah-kisah yang penuh makna, tentang bagaimana kita menyikapi hidup. Inti dari buku ini sebenarnya telah dikemas di awal bab. Manson juga menuliskan tiga "seni" yang dapat membantu mendefinisikan masa bodoh:

#1 Masa bodoh bukan berarti menjadi acuh tak acuh; masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda

#2 Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan

#3 Entah Anda sadari atau tidak, Anda selalu memilih suatu hal untuk diperhatikan

Menurut Manson, cuek dan masa bodoh adalah cara yang sederhana untuk mengarahkan kembali ekspektasi hidup kita dan memilih apa yang penting dan apa yang tidak. Buku ini mengajarkan kita bagaimana cara berlapang dada dan membiarkan sesuatu pergi, menyortir hal-hal yang penting saja dalam kehidupan ini.

Jadi, apa yang quotable di buku ini?

Apapun masalah Anda, konsepnya sama: selesaikan masalah; lalu berbahagialah.
Akan tetapi, sayangnya, bagi banyak orang, rasanya hidup tidak sesederhana itu. Itu karena mereka menghadapi masalah dengan paling tidak satu dari dua cara, yaitu penyangkalan dan mentalitas korban.

Jika penderitaan tidak bisa ditolak, jika permasalahan dalam kehidupan kita ini tidak bisa dihindari, pertanyaan yang harus kita ajukan bukan "Bagaimana saya menghentikan penderitaan?" Tapi "Mengapa saya menderita-demi tujuan apa?"

Bertanya kepada diri sendiri secara jujur itu sulit. Anda harus mengajukan kepada diri Anda sendiri, pertanyaan yang tidak nyaman untuk dijawab.
Kenyataannya, semakin tidak nyaman sebuah jawaban, semakin itu mendekati kenyataan yang sebenarnya.

Masalah mungkin tidak dapat dielakkan, namun makna dari setiap masalah bisa dikelola.
Kita harus mengendalikan makna di halik permasalahan kita seturut persepsi yang telah kita pilih, seturut standar yang telah kita tentukan untuk mengukurnya.

Jika Anda ingin mengubah cara Anda memandang permasalahan Anda, Anda harus mengubah nilai yang Anda pegang dan/atau bagaimana Anda mengukur kegagalan/kesuksesan.

Self improvement yang sesungguhnya: memprioritaskan nilai-nilai yang lebih baik, memilih hal-hal yang lebih baik untuk dipedulikan.
Karena ketika Anda peduli pada hal-hal yang lebih baik, Anda akan mendapat masalah yang lebih baik. Dan ketika Anda mendapat masalah yang lebih baik, Anda menjalani kehidupan yang lebih baik pula.

Tidak ada dogma yang benar. Tidak ada pula ideologi yang sempurna.
Yang ada hanyalah bahwa pengalaman Anda telah menunjukkan kepada Anda mana yang benar untuk Anda - dan bahkan, bahwa pengalaman juga bisa keliru.

Senin, 08 Juli 2019

Cofi by Cozyfield Palembang

Juli 08, 2019 0 Comments
Terletak di kawasan Gramedia World KM 7 Palembang, Cofi by Cozyfield menjadi salah satu pilihan coffeeshop asik untuk para anak muda berkumpul.




Meski tidak terlalu luas, desain yang apik akan membuat kita merasa betah untuk menikmati secangkir kopi dan penganan ringan. Desain cozyfield ini dirasa cukup nyaman bagi kawula muda menikmati kopi sambil berbincang santai, berdiskusi ataupun mengerjakan tugas. Space bagi mereka yang merokok juga disediakan di sini. Bahkan, bagi kalian yang suka menghabiskan waktu santai dengan membaca, cozyfield juga menyediakan beberapa koleksi buku di raknya. Tentunya buku ini bukan buku milik Gramedia ya, meskipun Cozyfield terletak di kawasan toko buku ternama tersebut.


Tidak hanya itu, Cozyfield juga menyajikan minuman non kopi seperti thai tea, milkshake bahkan eskrim. Makanan yang tersedia pun beragam, mulai dari makanan ringan hingga makanan berat seperti nasi goreng. Untuk harga, kita tidak perlu khawatir sebab menu-menu di sini dapat kita nikmati dengan harga yang terjangkau.



Untuk akses menuju lokasi, tergolong cukup jauh dari pusat kota. Meski demikian, sudah tersedia transportasi umum menuju lokasi Gramedia World, seperti Bus Transmusi, Light Rail Transit (LRT), ataupun mobil angkutan umum.

*) Beberapa foto diambil dari google

Minggu, 14 April 2019

MENIKMATI SECANGKIR KESEDERHANAAN DI KOPI PULANG

April 14, 2019 0 Comments

Minum kopi seolah sudah jadi bagian dari gaya hidup masyarakat kekinian. Bahkan, ngopi seakan menjadi tren yang kerap lekat sekali dengan anak muda indie. Kopi senja kopi senja puisi asam lambung. Tak heran, belakangan ini semakin banyak usaha-usaha seperti kedai kopi dan sejenisnya yang tumbuh di kota-kota di Indonesia. Di Palembang sendiri, telah cukup banyak kafe atau kedai kopi yang tumbuh bak jamur, mulai dari kedai kecil di pinggir jalan hingga yang besar dengan desain cantik dan estetis. Tempat seperti ini kemudian jadi pilihan bagi anak muda untuk nongkrong bareng.

Berlokasi di deretan pertokoan pinggir jalan kota Palembang, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman, terdapat sebuah kedai kopi yang tidak begitu besar yakni Kopi Pulang. Beberapa teman yang sering ‘ngopi’ merekomendasikan ini kepada saya yang ingin mencoba ngopi di kedai untuk kali pertama. Akses untuk ke lokasi ini cukup mudah. Hanya saja, tempat parkir yang sempit dan hanya cukup untuk beberapa sepeda motor saja.
Kopi Pulang menyuguhkan beberapa menu kopi dan juga makanan ringan sebagai teman ‘ngopi’. Untuk sajian kopi, kita dapat memesan cold brew, ice coffee, espresso, atau macchiato. Bagi yang tidak terlalu menyukai kopi hitam yang pahit, sebagai alternatif kita dapat memesan cappucino, latte, mocha, affogato, atau vietnamese. Selain kopi, Kopi Pulang juga menyediakan teh dan coklat. Sebagai teman ‘ngopi’, penganan yang disediakan di kedai ini cukup sedikit dan belum variatif, yakni hanya ada pisang, kentang, serta singkong. Mengenai harga, tergolong pas di kantong.

Desainnya pun sederhana, dengan memakai furniture berbahan kayu dan hiasan atau pajangan dinding yang juga sederhana serta pencahayaan ruangan yang tidak begitu terang dengan menggunakan lampu kecil yang digantung di setiap meja. Di salah satu sudut ruangan, terdapat beberapa koleksi buku yang terpajang rapi di rak. Setiap pengunjung dapat meminjam buku tersebut dan membacanya sambil menyesap kopi. Bagi yang senang mewarnai, di antara susunan buku tersebut juga ada coloring book serta pensil warna. Namun, di sini tidak disediakan fasilitas wifi dan air conditioner (AC), dan hanya menggunakan kipas angin.

Sebelum datang ke sini, saya telah mencari referensi dan melihat-lihat review beberapa orang di internet. Sejujurnya, yang saya telah menaruh ekspektasi lebih terhadap Kopi Pulang. Ternyata, Kopi Pulang lebih sempit dibanding yang saya bayangkan, dan desain serta tata letaknya pun telah sedikit banyak berubah. Namun secara keseluruhan, saya cukup menyukai coffeeshop ini karena kesederhanaannya. Kopi Pulang tidak hanya menyuguhkan secangkir kopi, tapi juga menawarkan kesederhanaan. Menikmati secangkir kopi hangat sembari bercengkrama bersama teman merupakan pelarian yang sungguh nikmat setelah penat bekerja atau menjalani studi di kampus atau di sekolah seharian.


Kamis, 20 Desember 2018

Gimana Rasanya Jadi Guru Newbie?

Desember 20, 2018 1 Comments
Dulu, setiap anak yang ditanya tentang cita-cita, jawabannya pasti ga jauh dari dokter, polisi, atau guru. Dan aku selalu bingung kalo ditanya tentang cita-cita. Karena pertanyaan itu kok kayaknya sempit banget. Jawabannya pasti ga jauh-jauh dari pekerjaan. Aku lebih suka nyebutnya impian daripada cita-cita. Soalnya keinginan yang mau aku wujudkan itu banyak, ga terbatas sama pekerjaan aja hehe.

Ngomongin profesi, dari dulu aku ga pernah kepikiran bakalan jadi dokter ataupun polisi. Aku juga awalnya ga terlalu berminat buat jadi guru. Tapi, semakin aku gede, aku juga sadar bahwa perempuan itu pada dasarnya adalah pengajar. Kita nanti juga bakalan jadi madrasah pertama buat anak-anak kita. Dan ga ada salahnya kan mencoba belajar mulai dari sekarang?

Jadi guru itu banyak benefitnya, pikirku gitu waktu itu. Alhasil, "jadi guru" masuk dalam list. Alasannya? Jadi guru itu bisa jadi ladang amal. Kita transfer ilmu ke orang lain, dia mengamalkannya, dan pahalanya ikut ngalir ke kita. Insyaa Allah. Jadi guru itu juga salah satu sarana belajar, sebab sebelum kita mengajar pasti kita belajar dulu kan ya, dan juga bisa terus mengasah ilmu, menambah pengetahuan, memperlancar keterampilan. Belajar jadi guru, kita juga sekalian belajar gimana caranya menghadapi anak-anak, hitung-hitung latihan sebelum jadi ibu, hehe. Dan juga sekalian belajar cari uang. Tapi, yang perlu digarisbawahi di sini, jangan jadikan uang sebagai tujuan utama karena uang yang bakalan didapet dari profesi sebagai guru itu ga seberapa. Kalau memang niatnya mau cari uang yang banyak, mending jadi pengusaha aja.

Meskipun sudah masuk list, bukan serta  merta aku bener-bener keukeuh memperjuangkan supaya bisa jadi guru. Karena sebenernya background aku bukan pendidikan guru. Ya, walaupun emang sering ikut kegiatan sosial di ranah pendidikan lewat komunitas. Tapi  siapa sangka? Allah kasih jalan. Aku dapet kesempatan untuk ngerasain gimana jadi guru. Ga mudah. Banyak timbul kekhawatiran awalnya. Khawatir aku ga mampu nge-handle anak-anak. Takut kalo yang aku sampaikan itu ga maksimal. Takut mereka ga cocok sama aku, takut aku ga bisa bikin mereka jadi anak yang pinter. Khawatir banget sampe muncul pikiran "apa aku berhenti aja kali ya?" Tapi karena ada Allah aku masih terus lanjut setidaknya sampai aku nulis ini.

Melalui profesi ini, aku banyaaakkk banget dapet pelajaran. Apalagi kebahagiaan, super! Kalo pengalaman mah udah pasti ya, di setiap ronde hidup kita pasti dapet pengalaman baru.
Memang, kadang-kadang ada aja yang bikin bete. Susah ngatur siswa yang bandel. Ya wajarlah ya, karakter setiap anak kan beda-beda. Tapi overall jadi guru itu asik juga! Ada-ada aja tingkah mereka yang bikin kita ketawa. Ada yang seneng banget joget-joget di depan kelas. Ada yang sangar banget padahal cewek. Ada yang suaranya nyaring banget padahal cuma ngobrol biasa tapi kayak teriak. Ada yang dikit-dikit nangis padahal cowok. Ada yang suka banget ngedeketin trus bisik-bisik ke aku. Ada yang cerewet banget kayak emak-emak. Ada yang manja banget minta ampun. Ada yang suka cari perhatian. Ada yang suka banget ngeledekin aku. Serius deh, kok aku kayaknya sering diledekin sama siswa. Kalo ga diledekin, ya digombalin.

Di antara mereka itu, suka banget ngeledekin aku. Ya mentang-mentang aku jomlo. Hahaha. Ada yang bilang "Ms, masak ms ga punya pacar? Aku aja ada." Etdah ini bocah SD juga udah main pacar-pacaran. Ada juga yang sok-sokan mau nyariin jodoh, "Ms, umur ms berapa? Nanti aku cariin jodoh. Ms itu nikahlah." Tepok jidat deh aku.
Di kelas lain, aku malah digombalin. Ini anak-anak sudah jadi korban sinetron apa gimana ya? Jadi ceritanya hari itu hari terakhir belajar karena mereka bakalan ujian semester. Ya jadi aku kasih kesempatan buat mereka kalo ada yang mau disampein atau ditanyain. Tapiiiiiii... Mimpi apa gue digombalin bocah smp 😂
Ms, kakinya sakit ga? / Engga / Yaudah nanti malem jalan yok?
Ms, nama panggilannya siapa? / Amey / Kalo aku panggil sayang boleh ga?
Ms, kok amis? / Hah? Amis? / Amisyuuu

Selain itu, aku juga belajar banyak hal dari mereka. Di usiaku sebesar mereka, aku belum berani tampil. Aku masih suka ragu-ragu, maju-mundur. Tapi mereka sudah percaya diri banget. Mereka berani. Ada juga anak yang pinter banget. Anak yang bijak juga ada.

Suatu waktu, pernah ada anak yang ngingetin temennya. Jadi temennya itu males nulis dan banyak ngeluh padahal ga banyak yang harus ditulis, ga sampe sehalaman buku tulis. Trus si anak bilang, "Nih ya, inget nih pesan aku. Kalo belajar itu jangan suka ngeluh. Kerjain aja, nanti juga selesai." Maasyaa Allah. Ini yang bilang anak kelas 4 SD loh.

Mengajar juga bisa jadi sarana kita untuk mengajarkan kebaikan, kita juga bisa manfaatkan untuk berdakwah. Meskipun materi yang kita ajarkan bukan tentang agama, tapi kita juga tetap bisa berdakwah. Contohnya, kalo ada yang bersin, kita ingetin untuk mengucap Alhamdulillah. Ada yang minum sambil berdiri, kita ingetin supaya duduk. Kita ajak mereka untuk jujur dan ikhlas menolong teman. Malahan, ada momen dimana pelajaran Bahasa Inggris dibuka dengan kisah Nabi Adam dan iblis yang sombong, gara-gara mereka pada ribut tentang hantu. Jadi, meski yang kita ajarkan itu ilmu dunia, bukan berarti kita ga punya kesempatan untuk menyampaikan kebaikan dan ilmu akhirat.

Di dunia ini, ada hal yang semakin kita bagi, bukannya habis namun semakin bertambah. Ialah kebaikan, cinta, dan kasih sayang. Ada banyak jalan bagi kita untuk berbagi, tinggal kita yang memilih mau lewat jalan yang mana. Semangat sebar kebaikan!

Senin, 26 November 2018

Cara Balikin Semangat Skripsian

November 26, 2018 0 Comments
Assalamu'alaikum. Tabik!
Selamat sudah jadi mahasiswa tingkat akhir! Mari kita dukung tumbuh kembang si skripsi, ya, bunda. Skripsinya jangan dianggurin terus, kan kasian :( nanti dianya malah kerdil. Tau banget deh tauuu, sepanjang proses perjalanan perskripsian pasti ada naik turunnya. Ada kalanya kita on fire banget, menggebu-gebu buat nuntasin skripsi. Tapi ada juga masanya kita lemes banget, mager abis, sampai-sampai ga mau noleh lagi ke skripsi. Tapi kalo sudah kayak gini kondisinya, jangan lupa balikin lagi semangatnya. Jangan terlarut-larut dalam kesedihan (nah loh/?)


Pada kesempatan ini, aku bakal share beberapa tips untuk mengelola semangat nggarap skripsi. Apa aja yang harus dilakukan sehingga mood dan semangat kita ga terus tidur di posisi nol?

#1 Merenung
Coba deh kamu luangin waktu sebentar buat merenung, pikirin kenapa kamu harus segera tuntaskan skripsi. Tanggungan beasiswa yang udah mau habis berbarengan abisnya jatah masa kuliah, mau ga mau harus bayaran lagi untuk semester depan, ada juga orang tua yang sudah nunggu-nunggu kapan kamu lulus kuliah. Terlebih, buat kita yang bukan dari kalangan keluarga kaya, dan masih nebeng hidup sama orang tua. Kalian tega mau nambahin beban orang tua? Setidaknya, kalo kalian lekas lulus kuliah, bisa segera kerja dan ga bergantung hidup sama orang tua. Dan ternyata, beberapa orang tua bahkan menaruh harapan pada anaknya supaya bisa bantu mereka (dalam hal finansial juga). Itu salah satu contohnya. Masih banyak hal lain yang bisa jadi alasan yang memotivasi kamu untuk kelarin skripsi. Nah, tanamkan itu baik-baik dalam benak kalian. Jadi, kalau sewaktu-waktu kalian down, ingat lagi tujuan dan motivasi awal.

#2 Cari Temen Skripsian
Cara ini menurutku cukup ampuh untuk balikin semangat skripsian kalo lagi turun. Sadar atau engga, semangat kita juga tergantung sama lingkungan di sekitar, gimana pergaulan kita, dan temen-temen terdekat kita. Bayangin deh, kalo misalkan temen-temen kita pada lemes dan males-malesan buat ngerjain skripsi, kita pasti juga bakal ketularan males. Jadi, untuk urusan skripsi (urusan yang lain juga sih), kita perlu temen yang rajin, yang suka ngingetin kita untuk selalu semangat berjuang ngerjain skripsi. Walaupun dia engga selalu ngingetin kita, tapi progress skripsinya juga bisa dijadikan motivasi supaya kita bisa lebih giat. Misalnya nih, si A yang suka bareng kita, skripsian bareng, nongkrong bareng, atau apa-apa bareng. Dia sudah acc bab 3, sedangkan kamu masih tetep aja bahas latar belakang permasalahan. Sadar atau engga, kemajuan si A bakal bikin kamu buat ngejer dia supaya ga ketinggalan jauh. Dan juga, buat kamu yang suka ditanyain "gimana skripsimu?" atau "sudah sampe mana?", jangan merasa terdzolimi dengan pertanyaan demikian ya. Sebenernya, mereka lagi nunjukkin perhatiannya ke kamu. Itu salah satu bentuk kepedulian mereka. Pun biasanya kalo ada orang yang terus rajin nanyain skripsi kita, lama-lama kita bakalan bosen sama pertanyaannya yang itu-itu mulu dan mau ga mau harus buru-buru selesaikan itu yang namanya skripsi. Ambil positifnya aja, ya.

#3 Jangan Sungkan Nanya
Ohya, keuntungan lain dari punya temen seperjuangan dalam hal skripsi bukan cuma sebatas itu doang, kamu juga bisa sharing tentang skripsimu sama dia, minta saran dan masukan untuk perkembangan si buah hati (hehe). Biarpun kamu lagi mager skripsian, tanya aja sama dia--apapun itu. Kamu bisa nanya progress dia, curhatin kesulitan skripsimu dan tanya tips dari dia boleh juga. Ini masih berkaitan ya sama poin di atas. Dan penting juga buat kalian untuk nanya ke mereka yang lebih berpengalaman, misalnya kakak tingkat yang tentunya sudah lebih dulu melewati tahap ini, atau temen satu bimbingan (kamu bisa nanya gimana kriteria skripsi yang dipengenin sama dosen pembimbing-- kriteria tiap dosen beda-beda biasanya). Pokoknya obrolin aja terus tentang skripsi, nanti juga bakalan timbul semangat (tapi niatnya juga ya). Insyaa Allah.

#4 Jangan Tinggalin Dia
Plis banget! Jangan tinggalin skripsimu lama-lama. Kamu boleh rehat, ambil jeda dari kepenatan ngerjain skripsi. Tapi sehari-dua hari cukup lah yaa. Jangan kelamaan, nanti dia terlantar dan kurang gizi karena kamu terlena dengan kesenangan yang sementara. Buka-bukain aja terus itu file skripsi, kalo kamu lagi males ngerjain yang berat-berat, perbaiki yang dikit-dikit aja dulu, bisa benerin penulisannya, tata bahasanya, atau bikin kerangka acuan apa-apa aja yang harus dibenahi. Kalaupun kamu merasa bingung, jangan ditinggalin gitu aja, tapi kamu kudu cari referensi lagi, banyakin baca, banyakin nanya, dan banyakin doa!

#5 Kenali Apa Maunya Kamu
Ga bisa dipungkiri, buat ngerjain skripsi itu butuh konsentrasi yang bagus dan mood yang bagus. Untuk mendukung itu, kamu bisa pilih waktu dan tempat yang paling pas buat ngerjain skripsi. Tiap orang beda-beda biasanya. Ada yang cuma bisa konsen ngerjain skripsi malem-malem, subuh, atau mungkin pas baru bangun tidur. Kalo kamu ngerasa bosen ngerjain di kamar melulu, perpustakaan bisa jadi salah satu spot buat skripsian. Di perpus biasanya kamu bisa nemuin buku-buku sebagai bahan referensi, dan juga ada free wifi (biasanya ini perlu). Atau kamu juga bisa ke cafe, taman, bahkan kosan temen juga bagus tuh (asal ga ngegosip aja). Kamu juga bisa ngemil sambil skripsian-- tapi sekali lagi, setiap orang beda ya, mungkin aja kamu tipe orang yang ga bisa disambil-sambil kalo ngerjain sesuatu.

#6 Tentukan Target
Nah ini juga penting. Pasalnya, kebanyakan orang suka lama ngerjain skripsi itu karena kebanyakan nunda, mengulur-ulur waktu, yang mana salah satu penyebabnya adalah ga ada tenggat pengerjaan. Kita ga punya deadline pasti. Makanya, lebih baik kita tentukan target kita sendiri -- kapan kita mau bimbingan, kapan kita harus nyelesain revisi, kapan kita harus sudah penelitian ke lapangan, kapan kita pengen sidang. Jadi kita ga bisa terus-terusan berleha-leha karena harus kejar target. Ini penting, soalnya kebanyakan dosen (di kampusku) yang ga ngasih tenggat revisi. Tapi inget juga, jangan sampe karena demi mengejar target kamu malah melupakan kualitas skripsimu. Kualitas isi skripsi kamu juga penting! Bukan cuma asal selesai aja. 

#7 Bersandar pada Sandaran yang Tepat
Ini yang paling penting dan perlu diingat. Kita harus selalu ingat bahwa kita harus terus berusaha dan berdoa. Apapun yang terjadi, semua adalah kehendak Allah. Memang, kita perlu berusaha semampu kita. Tapi kadar kemampuan kita, bukan kita sendiri yang bisa mengukurnya, cuma Allah yang tau batas kemampuan kita. Jadi, berusahalah sekuat mungkin, lakukan usaha yang paling maksimal dan tentu diiringi dengan doa. Kalau ada apa-apa -- baik susah atau senang, mudah atau sulit -- selalu sandarkan pada sandaran yang tepat. Percaya aja sama Allah, usaha, dan doa, nanti juga bakalan Allah tunjukkan jalan. Dan, ya, jangan suka pesimis dengan berdalih 'aku ga mampu' atau 'cuma segini bisanya, ya mau gimana lagi' lalu bergantung dan bersandar sama manusia. Keyakinan dan kepercayadirian itu penting, masbro, mbakbro!

Udah, ya.
Semoga bermanfaat. Semangat nggarap skripsi! Ganbatte never bete 💪