Sabtu, 18 Januari 2020

[Kilas Buku] I Am Sarahza - Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra

Januari 18, 2020 0 Comments
“I Am Sarahza” merupakan salah satu buku tulisan Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, yang sebelumnya juga penulis buku “99 Cahaya di Langit Eropa” dan “Bulan Terbelah di Langit Amerika”. Sebelumnya, kedua buku tersebut telah berhasil diangkat ke layar lebar. “I Am Sarahza” mengisahkan tentang perjalanan pernikahan serta perjuangan panjang sepasang suami istri tersebut dalam mengupayakan seorang buah hati. Inti dari buku ini telah tergambar dari sampulnya, “Di mana ada harapan, di situ ada kehidupan”.

Hasil gambar untuk buku i am sarahza

Buku ini terdiri dari 11 chapter. Setiap chapter menceritakan tahun-tahun pernikahan yang dimulai sejak tahun pertama pernikahan. Perjalanan kisah pada buku ini dibuka dengan cerita pertemuan antara Rangga dan Hanum. Kisah ini diceritakan melalui tiga sudut pandang, yakni dari sudut pandang Rangga, Hanum, dan Sarahza (calon anak Rangga dan Hanum yang ada di Lauhul Mahfudz). Pada buku ini dikisahkan bahwa apabila harapan semakin memudar, maka cahaya kehidupan Sarahza di Lauhul Mahfuz juga semakin meredup.

Berbagai upaya dilakukan kedua pasangan ini untuk memperoleh anak, mulai dari laparaskopi, inseminasi buatan, bayi tabung, mereka pun mencoba konsultasi beberapa dokter atau ahli, mulai dari dalam negeri hingga luar negeri. Cara yang dilakukan juga terus dilakukan berulang-ulang hingga tak jarang keputusasaan hadir di hati mereka. Cerita perjalanan panjang upaya Hanum dan Rangga untuk memperoleh buah hati yang tak kunjung dititipkan oleh Yang Maha Kuasa memiliki banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita petik bersama. Kisah ini juga mengajarkan kita bagaimana cara menghadapi masalah hidup, mengatasi ego, mengerti arti pernikahan itu sendiri, mengembalikan semangat serta mengerti cara bersyukur. Nasihat-nasihat juga dapat kita ambil dari buku ini, salah satunya ialah nasihat dari Ayah Hanum ketika anaknya sedang dalam keputusaan lantaran upayanya yang panjang dan berulang-ulang tidak ada yang membuahkan hasil. Cukup panjang, tapi penting untuk kita jadikan pelajaran.

“Satu, jaga shalatmu. Shalat itu dibilang tiang agama, tapi juga tiang hidup seseorang. Kamu bisa terseret angin, terpelanting, terombang-ambing, tapi selama tiangmu kuat, peganganmu kuat, Insyaa Allah kamu baik-baik saja. Kalau hatimu saat mendengar adzan ada getaran, kamu merasa bahagia ketika shalat, bukan lagi merasa kewajiban melainkan kebutuhan, itu artinya shalatnya bener. Gerakan sujud dalam shalat bisa menenteramkan hati, saat kepala kita lebih rendah dari bagian tubuh mana pun, saat ego kita diletakkan lebih rendah dari apa pun. Nah, sekarang kalalu shalatmu aja dijemur, apalagi Shubuh jam 8, gimana kamu membuat tiang untuk dirimu sendiri?”

“Dua, Al-Qur’an itu dibaca dan diresapi, jangan hanya dijadikan pajangan rak. Dibaca nyaring biar aura rumahmu terkena pesonanya, rasanya di tubuh juga lebih plong lega. Malaikat juga berbondong-bondong ikut mendengarkan. Al-Qu’ran itu obat dan sahabat. Kalau kamu merasa sendiri, ya dia itu sahabatmu sejati. Dulu Bapak pas pernah kayak kamu, tiga hari saja bisa khatam. Sebulan sembuh. Num, misalnya nanti Ibu dan Bapak sudah tiada, bahkan semisal Rangga mendahuluimu dan kamu merasa kesepian karena tidak ada teman dalam meneruskan hidup, Al-Qur’an itu adalah penasihatmu yang paling murni hatinya.”

“Tiga, gunakan waktu luang, bahkan ketika kamu melamun dengan zikir. Kalau Bapak, paling suka tahlil dan istighfar. Zikir yang sepenuh hati, disusupkan ke liang-liang kalbu. Layaknya gelas berisi air penuh, perasaan kita, kekuatan pikiran kita, lama-lama akan habis kalau dituang, kalau dipakai. Nah, zikir itu ‘mengisi ulang gelas’. Jangan nunggu sampaii separuh terpakai, apalagi tinggal setetes, bahaya. Zikir terus menerus selagi sempat, biar ‘gelas’ kita selalu penuh. Kalau papamu yang ahli syaraf bilang otakmu tidak seimbang karena sirkuit neurotransmiternya tak beraturan, zikir itulah antidepresanterbaik. Zikir dengan segenap jiwa akan menyusun kembali kimia otakmu dengan akurat. Terakhir...”

“Num, sebagaimana zikir, sedekah itu melegakan hati. Bonusnya, membersihkan harta plus pikiran dan kecemasan secara langsung.”


........

*) gambar diambil dari google

[Kilas Buku] Madrasah Cahaya - Sonia Faiqah

Januari 18, 2020 0 Comments
"Allah mengirimkan berbagai persoalan, pengabaian, kecewa, patah hati, sebagai bentuk penjagaan dari-Nya. Agar kita sadar, tak ada satu pun sandaran dalam kehidupan ini, kecuali Allah semata"

Kalimat yang begitu sejuk, ditulis langsung oleh penulis buku Madrasah Cahaya, Sonia Faiqah, kiranya begitu ia ingin dikenal sebagai penulis. Buku ini saya dapatkan selepas mengikuti give away di instagram. Hadiah give away pertama. Ini kali pertama saya menang give away, hehe.

Buku ini sudah diterima dan dibaca jauh sebelum Kilas Buku ini ditulis. Untuk menulis ini, saya kembali membacanya meski tidak secara utuh. Madrasah Cahaya berisi kumpulan catatan, sarat akan pelajaran, pengingat bagi diri, juga sarana refleksi.  Beberapa kisah terasa lekat dengan keseharian, beberapa yang lain di ambil dari kisah Rasul dan Sahabat.

Madrasah Cahaya terdiri dari 27 catatan, ditambah beberapa sajak di awal dan akhir buku, sebagai pembuka dan penutup. Setiap catatan ditulis dengan apik, bahasa yang lembut, menuntun menemukan kembali jalan pulang. Seperti kata penulis, "Madrasah Cahaya adalah kumpulan catatan yang berhasil dirangkum selama proses hijrah. Sebuah persembahan yang semoga mampu menjelma Ismail lewat cintanya, mampu menjelma Anas lewat pengabdiannya, mampu menjelma Benyamin lewat penjagaannya."


Meski demikian, jika dilihat dari segi desain dan layout, baik cover maupun isi, nampak tidak begitu menarik. Buku setebal 140 halaman ini tidak dijual bebas di toko buku. Anda tidak akan menemukannya di Gramedia, Togamas, Gunung Agung, atau lapak-lapak online. Pun setahu saya belum dijual di marketplace manapun. Anda bisa menghubungi langsung melalui sosial media penulis, baik facebook ataupun instagram Sonia Faiqah. Buku dengan ukuran 13x19 cm ini diterbitkan secara mandiri oleh NF Publishing House dengan cetakan pertama pada Maret 2018.

Bonus: Sajak Penutup dari Madrasah Cahaya

Pada akhirnya, hidup adalah tentang mengambil keputusan
Ada yang memilih berjuang, ada yang memilih pergi
Ada yang menyambut seruan, ada yang berbelok lari
Ada yang tetap bertahan, ada yang memalingkan diri

Pada akhirnya, hidup adalah tentang memilih masalah
Ada yang tersibukkan dengan hal-hal tak penting, ada yang sibuk dengan hal-hal besar
Ada yang mengurus kepentingan pribadi, ada yang memikirkan sesama
Ada yang hanya mengambil keuntungan, ada yang tertarik dengan pengorbanan

Pada akhirnya, hidup adalah tentang bagaimana Allah ridha
Melalui mata yang selalu terjaga
Melalui tenaga yang terkuras
Melalui pikiran yang penat
Melalui sujud yang panjang dalam salat
Melalui untaian doa kebaikan atas umat

Pada akhirnya, hidup adalah tentang keyakinan utuh
Bahwa Allah selalu memberi jalan keluar
Bahwa Allah takkan pernah menyia-nyiakan
Bahwa Allah akan memudahkan segala urusan
Bahwa Allah akan menyingkirkan kesulitan

....

*) foto diambil dari instagram

Sabtu, 21 Desember 2019

Kalo Aku Ikut Pers, Apa Untungnya?

Desember 21, 2019 0 Comments

Mendengar nama pers rasanya keren sekali, ya? Wah pasti mereka-mereka ini yang sering mondar-mandir bawa kamera, apalagi di acara-acara atau kejadian penting, beberapa malah sering muncul di televisi. Padahal, sebenarnya pers itu tidak terbatas hanya itu saja, lo! Kalau yang disebutkan tadi, itu bisa jadi kamu baru kenal sebatas tugas reporter saja. Terus apa bedanya reporter dan pers? Kalau menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), reporter berarti orang yang pekerjaannya melaporkan (berita, peristiwa, dan sebagainya) alias wartawan. Sedangkan pers adalah usaha pengumpulan dan penyiaran berita. Jadi, sudah cukup jelas sampai di sini? Reporter itu salah satu bagian dari pers, ya, teman-teman.


Asiknya, kita bisa belajar memahami pers meski masih duduk di bangku kuliah karena di kampus biasanya ada yang namanya Pers Mahasiswa, ada yang tingkat fakultas ataupun universitas. Pers Mahasiswa ini sendiri biasanya tergolong dalam organisasi kemahasiswaan, yang tentunya independen. Jadi, di pers mahasiswa ini isinya apa saja selain reporter? Banyak! Setidaknya, di pers mahasiswa ini ada yang namanya Pimpinan Umum alias pimum, Bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang), dan yang paling penting dan utama itu Redaksi. Bagian redaksi ini dipimpin oleh seorang Pimpinan Redaksi (Pimred) yang mana di bawahnya ada Redaktur Pelaksana, Reporter dan juga FPelaksana, serta Layouter. Beberapa pers yang membuka iklan untuk media cetaknya, juga mempunyai Bagian Usaha, yang dipimpin oleh seorang Pimpinan Usaha (Pimus).

Selain itu, teman-teman juga pasti sudah tahu bahwa pers sekarang tidak hanya terbatas untuk penyiaran melalui media cetak saja, melainkan juga sudah merambah media online. Sebab di era yang serba canggih ini semua sudah bisa kita akses dengan bermodalkan kuota internet dan gadget di genggaman.

Lalu, bagaimana kalau saya ikut bagian dalam pers ini? Apa untungnya bagi saya?

#1 Stay update

Kalau dipikir, bagaimana mungkin kita tidak update dengan berita atau informasi jika kita sendiri yang memberitakannya? Jadi pers memungkinkan kita untuk mengetahui banyak informasi-informasi terbaru dengan cepat, bahkan melalui sumber-sumber yang kredibel. Hal ini mungkin saja, sebab pers menjadi pintu kita untuk memiliki banyak jejaring. Masa, orang pers ketinggalan info? Hehe.

#2 Paket Komplit: Tulis menulis, desain dan layouting

Mulai belajar di pers, tentu kita perlu menguasai dunia jurnalistik atau kepenulisan berita. Adalah sebuah kemustahilan jika kita yang masih baru dan tidak mengerti apa-apa, lantas langsung ditunjuk untuk menjadi pimpinan umum. Jadi, di sinilah kita perlu membiasakan diri bagaimana cara menulis berita yang baik. Perlu diingat, bahwa berita yang disebarluaskan adalah berita benar, bukan hoax atau gosip. Berita yang ditulis berdasarkan informasi yang benar dan terpercaya, tidak mengada-ada apalagi mengadu domba.
Penulisan berita ini, lekat pada tugas bagian redaksi. Kita dituntu untuk memahami bagaimana teknik penulisan berita yang baik dan benar, yang dapat merangkum 5W+1H, dan tetap menarik untuk dibaca. Teman-teman sekalian juga dapat mengetahui bagaimana pemilihan judul berita yang menarik, teknik piramida terbalik untuk menulis berita, serta hal-hal lainnya. Selain itu, di bagian redaksi ini kita juga dapat belajar bagaimana cara mendesain serta me-layout terutama untuk media cetak seperti majalah, koran, ataupun buletin. Di era sekarang terutama dunia kreatif, pengetahuan dan kemampuan menulis serta desain adalah hal yang penting dan bisa menjadi nilai tambah bagi diri kita. Kamu keren kalau bisa nulis dan desain.

#3 ID Card pers

Masih bertanya apa untungnya punya ID Card pers? Dengan ID ini, beberapa teman pers mahasiswa bahkan bisa masuk ke acara-acara besar yang diselenggarakan oleh kampus tanpa harus menjadi tamu undangan atau membayar dengan sejumlah uang, hehe. Ikut masuk ke gedung DPR untuk meliput saat demo pun bisa.

#4 Bertemu orang penting

Jika masuk ke acara penting saja bisa, kita juga bisa bertemu dan mewawancarai orang-orang penting dan terkenal. Menjadi pers membuka peluang bagi kita untuk memperluas jejaring, mengenal banyak orang dan bahkan juga dikenal oleh banyak orang.

#5 Latihan jadi wartawan professional

Menjadi wartawan profesional adalah menjadi orang yang tangguh, gesit, pandai dan tahan banting, serta mampu memanajemen waktu sebab sudah pasti mobilitasnya sangat tinggi dan juga berani menyampaikan kebenaran. Jadi, mau latihan dulu tidak?

Sabtu, 28 September 2019

Yang Quotable di "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat"

September 28, 2019 0 Comments
The Subtle Art of Not Giving A Fuck merupakan buku pengembangan diri pertama tulisan Mark Manson yang beberapa waktu lalu menjadi salah satu buku yang cukup terkenal dan digandrungi oleh banyak pembaca. Di Indonesia sendiri, buku ini telah dialihbahasakan menjadi "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat".

Hasil gambar untuk foto buku seni bersikap bodo amat
Pict by google

Pernah suatu waktu, ketika saya sedang membaca buku ini, seseorang berkata, "Untuk apa kamu baca buku ini? Awas nanti kamu malah jadi bodo amat. Ga bagus itu". Padahal, bodo amat yang dimaksud oleh Manson adalah bagaimana kita menyikapi suatu masalah yang terjadi serta memberi perhatian hanya pada hal-hal yang memang semestinya perlu kita berikan atensi.

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat terdiri dari 9 bab. Melalui buku ini, Manson mengemas tulisannya dengan kisah-kisah yang penuh makna, tentang bagaimana kita menyikapi hidup. Inti dari buku ini sebenarnya telah dikemas di awal bab. Manson juga menuliskan tiga "seni" yang dapat membantu mendefinisikan masa bodoh:

#1 Masa bodoh bukan berarti menjadi acuh tak acuh; masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda

#2 Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan

#3 Entah Anda sadari atau tidak, Anda selalu memilih suatu hal untuk diperhatikan

Menurut Manson, cuek dan masa bodoh adalah cara yang sederhana untuk mengarahkan kembali ekspektasi hidup kita dan memilih apa yang penting dan apa yang tidak. Buku ini mengajarkan kita bagaimana cara berlapang dada dan membiarkan sesuatu pergi, menyortir hal-hal yang penting saja dalam kehidupan ini.

Jadi, apa yang quotable di buku ini?

Apapun masalah Anda, konsepnya sama: selesaikan masalah; lalu berbahagialah.
Akan tetapi, sayangnya, bagi banyak orang, rasanya hidup tidak sesederhana itu. Itu karena mereka menghadapi masalah dengan paling tidak satu dari dua cara, yaitu penyangkalan dan mentalitas korban.

Jika penderitaan tidak bisa ditolak, jika permasalahan dalam kehidupan kita ini tidak bisa dihindari, pertanyaan yang harus kita ajukan bukan "Bagaimana saya menghentikan penderitaan?" Tapi "Mengapa saya menderita-demi tujuan apa?"

Bertanya kepada diri sendiri secara jujur itu sulit. Anda harus mengajukan kepada diri Anda sendiri, pertanyaan yang tidak nyaman untuk dijawab.
Kenyataannya, semakin tidak nyaman sebuah jawaban, semakin itu mendekati kenyataan yang sebenarnya.

Masalah mungkin tidak dapat dielakkan, namun makna dari setiap masalah bisa dikelola.
Kita harus mengendalikan makna di halik permasalahan kita seturut persepsi yang telah kita pilih, seturut standar yang telah kita tentukan untuk mengukurnya.

Jika Anda ingin mengubah cara Anda memandang permasalahan Anda, Anda harus mengubah nilai yang Anda pegang dan/atau bagaimana Anda mengukur kegagalan/kesuksesan.

Self improvement yang sesungguhnya: memprioritaskan nilai-nilai yang lebih baik, memilih hal-hal yang lebih baik untuk dipedulikan.
Karena ketika Anda peduli pada hal-hal yang lebih baik, Anda akan mendapat masalah yang lebih baik. Dan ketika Anda mendapat masalah yang lebih baik, Anda menjalani kehidupan yang lebih baik pula.

Tidak ada dogma yang benar. Tidak ada pula ideologi yang sempurna.
Yang ada hanyalah bahwa pengalaman Anda telah menunjukkan kepada Anda mana yang benar untuk Anda - dan bahkan, bahwa pengalaman juga bisa keliru.

Senin, 08 Juli 2019

Cofi by Cozyfield Palembang

Juli 08, 2019 0 Comments
Terletak di kawasan Gramedia World KM 7 Palembang, Cofi by Cozyfield menjadi salah satu pilihan coffeeshop asik untuk para anak muda berkumpul.




Meski tidak terlalu luas, desain yang apik akan membuat kita merasa betah untuk menikmati secangkir kopi dan penganan ringan. Desain cozyfield ini dirasa cukup nyaman bagi kawula muda menikmati kopi sambil berbincang santai, berdiskusi ataupun mengerjakan tugas. Space bagi mereka yang merokok juga disediakan di sini. Bahkan, bagi kalian yang suka menghabiskan waktu santai dengan membaca, cozyfield juga menyediakan beberapa koleksi buku di raknya. Tentunya buku ini bukan buku milik Gramedia ya, meskipun Cozyfield terletak di kawasan toko buku ternama tersebut.


Tidak hanya itu, Cozyfield juga menyajikan minuman non kopi seperti thai tea, milkshake bahkan eskrim. Makanan yang tersedia pun beragam, mulai dari makanan ringan hingga makanan berat seperti nasi goreng. Untuk harga, kita tidak perlu khawatir sebab menu-menu di sini dapat kita nikmati dengan harga yang terjangkau.



Untuk akses menuju lokasi, tergolong cukup jauh dari pusat kota. Meski demikian, sudah tersedia transportasi umum menuju lokasi Gramedia World, seperti Bus Transmusi, Light Rail Transit (LRT), ataupun mobil angkutan umum.

*) Beberapa foto diambil dari google

Minggu, 14 April 2019

MENIKMATI SECANGKIR KESEDERHANAAN DI KOPI PULANG

April 14, 2019 0 Comments

Minum kopi seolah sudah jadi bagian dari gaya hidup masyarakat kekinian. Bahkan, ngopi seakan menjadi tren yang kerap lekat sekali dengan anak muda indie. Kopi senja kopi senja puisi asam lambung. Tak heran, belakangan ini semakin banyak usaha-usaha seperti kedai kopi dan sejenisnya yang tumbuh di kota-kota di Indonesia. Di Palembang sendiri, telah cukup banyak kafe atau kedai kopi yang tumbuh bak jamur, mulai dari kedai kecil di pinggir jalan hingga yang besar dengan desain cantik dan estetis. Tempat seperti ini kemudian jadi pilihan bagi anak muda untuk nongkrong bareng.

Berlokasi di deretan pertokoan pinggir jalan kota Palembang, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman, terdapat sebuah kedai kopi yang tidak begitu besar yakni Kopi Pulang. Beberapa teman yang sering ‘ngopi’ merekomendasikan ini kepada saya yang ingin mencoba ngopi di kedai untuk kali pertama. Akses untuk ke lokasi ini cukup mudah. Hanya saja, tempat parkir yang sempit dan hanya cukup untuk beberapa sepeda motor saja.
Kopi Pulang menyuguhkan beberapa menu kopi dan juga makanan ringan sebagai teman ‘ngopi’. Untuk sajian kopi, kita dapat memesan cold brew, ice coffee, espresso, atau macchiato. Bagi yang tidak terlalu menyukai kopi hitam yang pahit, sebagai alternatif kita dapat memesan cappucino, latte, mocha, affogato, atau vietnamese. Selain kopi, Kopi Pulang juga menyediakan teh dan coklat. Sebagai teman ‘ngopi’, penganan yang disediakan di kedai ini cukup sedikit dan belum variatif, yakni hanya ada pisang, kentang, serta singkong. Mengenai harga, tergolong pas di kantong.

Desainnya pun sederhana, dengan memakai furniture berbahan kayu dan hiasan atau pajangan dinding yang juga sederhana serta pencahayaan ruangan yang tidak begitu terang dengan menggunakan lampu kecil yang digantung di setiap meja. Di salah satu sudut ruangan, terdapat beberapa koleksi buku yang terpajang rapi di rak. Setiap pengunjung dapat meminjam buku tersebut dan membacanya sambil menyesap kopi. Bagi yang senang mewarnai, di antara susunan buku tersebut juga ada coloring book serta pensil warna. Namun, di sini tidak disediakan fasilitas wifi dan air conditioner (AC), dan hanya menggunakan kipas angin.

Sebelum datang ke sini, saya telah mencari referensi dan melihat-lihat review beberapa orang di internet. Sejujurnya, yang saya telah menaruh ekspektasi lebih terhadap Kopi Pulang. Ternyata, Kopi Pulang lebih sempit dibanding yang saya bayangkan, dan desain serta tata letaknya pun telah sedikit banyak berubah. Namun secara keseluruhan, saya cukup menyukai coffeeshop ini karena kesederhanaannya. Kopi Pulang tidak hanya menyuguhkan secangkir kopi, tapi juga menawarkan kesederhanaan. Menikmati secangkir kopi hangat sembari bercengkrama bersama teman merupakan pelarian yang sungguh nikmat setelah penat bekerja atau menjalani studi di kampus atau di sekolah seharian.


Kamis, 20 Desember 2018

Gimana Rasanya Jadi Guru Newbie?

Desember 20, 2018 1 Comments
Dulu, setiap anak yang ditanya tentang cita-cita, jawabannya pasti ga jauh dari dokter, polisi, atau guru. Dan aku selalu bingung kalo ditanya tentang cita-cita. Karena pertanyaan itu kok kayaknya sempit banget. Jawabannya pasti ga jauh-jauh dari pekerjaan. Aku lebih suka nyebutnya impian daripada cita-cita. Soalnya keinginan yang mau aku wujudkan itu banyak, ga terbatas sama pekerjaan aja hehe.

Ngomongin profesi, dari dulu aku ga pernah kepikiran bakalan jadi dokter ataupun polisi. Aku juga awalnya ga terlalu berminat buat jadi guru. Tapi, semakin aku gede, aku juga sadar bahwa perempuan itu pada dasarnya adalah pengajar. Kita nanti juga bakalan jadi madrasah pertama buat anak-anak kita. Dan ga ada salahnya kan mencoba belajar mulai dari sekarang?

Jadi guru itu banyak benefitnya, pikirku gitu waktu itu. Alhasil, "jadi guru" masuk dalam list. Alasannya? Jadi guru itu bisa jadi ladang amal. Kita transfer ilmu ke orang lain, dia mengamalkannya, dan pahalanya ikut ngalir ke kita. Insyaa Allah. Jadi guru itu juga salah satu sarana belajar, sebab sebelum kita mengajar pasti kita belajar dulu kan ya, dan juga bisa terus mengasah ilmu, menambah pengetahuan, memperlancar keterampilan. Belajar jadi guru, kita juga sekalian belajar gimana caranya menghadapi anak-anak, hitung-hitung latihan sebelum jadi ibu, hehe. Dan juga sekalian belajar cari uang. Tapi, yang perlu digarisbawahi di sini, jangan jadikan uang sebagai tujuan utama karena uang yang bakalan didapet dari profesi sebagai guru itu ga seberapa. Kalau memang niatnya mau cari uang yang banyak, mending jadi pengusaha aja.

Meskipun sudah masuk list, bukan serta  merta aku bener-bener keukeuh memperjuangkan supaya bisa jadi guru. Karena sebenernya background aku bukan pendidikan guru. Ya, walaupun emang sering ikut kegiatan sosial di ranah pendidikan lewat komunitas. Tapi  siapa sangka? Allah kasih jalan. Aku dapet kesempatan untuk ngerasain gimana jadi guru. Ga mudah. Banyak timbul kekhawatiran awalnya. Khawatir aku ga mampu nge-handle anak-anak. Takut kalo yang aku sampaikan itu ga maksimal. Takut mereka ga cocok sama aku, takut aku ga bisa bikin mereka jadi anak yang pinter. Khawatir banget sampe muncul pikiran "apa aku berhenti aja kali ya?" Tapi karena ada Allah aku masih terus lanjut setidaknya sampai aku nulis ini.

Melalui profesi ini, aku banyaaakkk banget dapet pelajaran. Apalagi kebahagiaan, super! Kalo pengalaman mah udah pasti ya, di setiap ronde hidup kita pasti dapet pengalaman baru.
Memang, kadang-kadang ada aja yang bikin bete. Susah ngatur siswa yang bandel. Ya wajarlah ya, karakter setiap anak kan beda-beda. Tapi overall jadi guru itu asik juga! Ada-ada aja tingkah mereka yang bikin kita ketawa. Ada yang seneng banget joget-joget di depan kelas. Ada yang sangar banget padahal cewek. Ada yang suaranya nyaring banget padahal cuma ngobrol biasa tapi kayak teriak. Ada yang dikit-dikit nangis padahal cowok. Ada yang suka banget ngedeketin trus bisik-bisik ke aku. Ada yang cerewet banget kayak emak-emak. Ada yang manja banget minta ampun. Ada yang suka cari perhatian. Ada yang suka banget ngeledekin aku. Serius deh, kok aku kayaknya sering diledekin sama siswa. Kalo ga diledekin, ya digombalin.

Di antara mereka itu, suka banget ngeledekin aku. Ya mentang-mentang aku jomlo. Hahaha. Ada yang bilang "Ms, masak ms ga punya pacar? Aku aja ada." Etdah ini bocah SD juga udah main pacar-pacaran. Ada juga yang sok-sokan mau nyariin jodoh, "Ms, umur ms berapa? Nanti aku cariin jodoh. Ms itu nikahlah." Tepok jidat deh aku.
Di kelas lain, aku malah digombalin. Ini anak-anak sudah jadi korban sinetron apa gimana ya? Jadi ceritanya hari itu hari terakhir belajar karena mereka bakalan ujian semester. Ya jadi aku kasih kesempatan buat mereka kalo ada yang mau disampein atau ditanyain. Tapiiiiiii... Mimpi apa gue digombalin bocah smp 😂
Ms, kakinya sakit ga? / Engga / Yaudah nanti malem jalan yok?
Ms, nama panggilannya siapa? / Amey / Kalo aku panggil sayang boleh ga?
Ms, kok amis? / Hah? Amis? / Amisyuuu

Selain itu, aku juga belajar banyak hal dari mereka. Di usiaku sebesar mereka, aku belum berani tampil. Aku masih suka ragu-ragu, maju-mundur. Tapi mereka sudah percaya diri banget. Mereka berani. Ada juga anak yang pinter banget. Anak yang bijak juga ada.

Suatu waktu, pernah ada anak yang ngingetin temennya. Jadi temennya itu males nulis dan banyak ngeluh padahal ga banyak yang harus ditulis, ga sampe sehalaman buku tulis. Trus si anak bilang, "Nih ya, inget nih pesan aku. Kalo belajar itu jangan suka ngeluh. Kerjain aja, nanti juga selesai." Maasyaa Allah. Ini yang bilang anak kelas 4 SD loh.

Mengajar juga bisa jadi sarana kita untuk mengajarkan kebaikan, kita juga bisa manfaatkan untuk berdakwah. Meskipun materi yang kita ajarkan bukan tentang agama, tapi kita juga tetap bisa berdakwah. Contohnya, kalo ada yang bersin, kita ingetin untuk mengucap Alhamdulillah. Ada yang minum sambil berdiri, kita ingetin supaya duduk. Kita ajak mereka untuk jujur dan ikhlas menolong teman. Malahan, ada momen dimana pelajaran Bahasa Inggris dibuka dengan kisah Nabi Adam dan iblis yang sombong, gara-gara mereka pada ribut tentang hantu. Jadi, meski yang kita ajarkan itu ilmu dunia, bukan berarti kita ga punya kesempatan untuk menyampaikan kebaikan dan ilmu akhirat.

Di dunia ini, ada hal yang semakin kita bagi, bukannya habis namun semakin bertambah. Ialah kebaikan, cinta, dan kasih sayang. Ada banyak jalan bagi kita untuk berbagi, tinggal kita yang memilih mau lewat jalan yang mana. Semangat sebar kebaikan!